Bagaimana bisa, sedangkan ia berbuat baik sebagaimana juga kaum muslimin melakukannya?
Inilah jawaban atas pertanyaan tersebut, sebuat cerita metafora tentang ”Si Fulan yang Tertipu”.
....
Alkisah, suatu hari si Fulan mengikuti tes satu mata kuliah di kampusnya. Ia girang sekali karena merasa banyak soal yang bisa ia kerjakan dengan baik. Kini ia tinggal menunggu hasilnya, ia sudah mengkhayalkan bahwa pada hari pengumuman nanti, ia akan mendapat nilai yang bagus dan lulus mata kuliah tersebut.Lantas, ketika hari pengumuman telah tiba, maka ia bergegas ke kampus, ia sangat senang, hatinya berbunga-bunga karena merasa akan mendapatkan nilai yang bagus. Ternyata, ketika ia mengamati hasil tes yang terpampang di papan pengumuman, ia merasa heran dan sangat gusar karena namanya tak tercantum dalam pengumuman tersebut. Ia bertanya-tanya dalam hati apakah yang sedang terjadi pada dirinya.
Tak lama kemudian ia pergi ke dosen mata kuliah tersebut. Ia langsung berkata, ”Bapak dosen, mengapa hasil tes saya tidak terpampang di papan pengumuman, padahal saya merasa sudah mengerjakan tes dengan sebaik-baiknya? Bapak bisa cek lembar jawaban yang sudah saya kerjakan!”
Bapak dosen pun mengambil lembar jawaban si Fulan sembari berkata, ”Fulan, ini lembar jawaban yang telah kamu kerjakan itu?”, si Fulan membenarkan bahwa itulah lembar jawaban tes yang telah ia kerjakan dan mengambilnya. Sehabis mengamati lembar tersebut, si Fulan pun membalas berkata, ”Bapak dosen, lihatlah, bukankah jawaban saya banyak benarnya, tetapi mengapa nilai saya tidak muncul di pengumuman dan bahkan nama saya juga tidak tercantum dalam daftar mahasiswa yang lulus tes?”
Bapak dosen pun balik bertanya, ”Fulan, kamu memang benar sudah mengerjakan tes itu dengan cukup baik, tetapi apakah kamu sudah mendaftarkan diri sebagai peserta mata kuliah yang sedang saya asuh ini?”, dengan heran si Fulan tersebut menjawab, ”Apa??! Tidak, saya tidak pernah mendaftarkan diri sebagai peserta mata kuliah ini sebelumnya!”, kemudian sang dosen dengan sedikit menahan rasa kesal, berkata, ”Hai Fulan, kamu mengharapkan mendapat nilai yang bagus dan lulus mata kuliah ini¸ padahal kamu tidak pernah mendaftar sebagai peserta mata kuliah ini dan juga tidak mengikuti kuliahnya selama satu semester, lantas bagaimana saya bisa memberimu nilai dan meluluskanmu?”
Si Fulan itu pun tertunduk malu, sadar akan kealpaannya selama ini, ia pun mengundurkan diri dari hadapan sang dosen, kini lenyap sudah harapan yang ia bangun selama ini, tubuhnya lemas dan wajahnya pucat, sia-sia sudah apa yang telah ia kerjakan sebab ia tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, yang tinggal hanyalah penyesalan yang mendalam, hatinya berkata, ”Aduh, kenapa waktu awal semester dulu itu aku tidak mendaftar dan tidak mengikuti kuliah bersama teman-temanku yang lain, kini segala usaha menjadi sia-sia, tak ada harga dan tak ada nilainya, lenyap sudah segala usaha bagai debu dihempas angin....”....
Demikianlah, Allah SWT tiada akan membalas amal kebaikan hamba-Nya hingga si hamba mengikuti persyaratan yang telah ditetapkan oleh-Nya melalui agama yang diridhai-Nya, yaitu dengan menyatakan diri masuk Islam (bersyahadat) dan menjalani hidup di dunia dengan bimbingan agamanya ini, sebagaimana sang dosen pada cerita di atas, tidak akan memberi nilai pada hasil kerja si Fulan, melainkan jika si Fulan telah mendaftar sebagai peserta mata kuliah dan mengikuti kuliah itu selama satu semester. Allah SWT berfirman:
Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (Q.S. al-Furqaan: 23).
Yang dimaksud dengan amal mereka disini ialah amal-amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia. Amal-amal itu tak dibalasi oleh Allah karena mereka tidak beriman. Wallahu a’lam bish-shawab!
Link Artikel Ini

8 komentar:
pertanyaan umat hindu :
kalo orang yang belum mendaftar kenapa bisa masuk ruangan test bahkan mendapatkan soal ujian?
mohon pencerahannya
suksema...
kami dari umat budha :
kami ingin memberikan salah satu fakta yang mungkin bisa jadi pertimbangan dalam kasus di atas...
"seseorang melakukan kejahatan di negaranya sendiri pasti akan menghadapi hukum yang berlaku di negara tersebut jadi tidak mungkin hukum yang di gunakan untuk mengadili orang itu menggunakan hukum negara lain"
@pertanyaan umat Hindu:
setiap mahasiswa bisa mengikuti kuliah pd mata kuliah itu dan mengikuti ujian, tdk dibatasi...
setiap manusia bisa hidup di dunia dan melakukan kebajikan sampai baas waktu yg ditentukan.
@kami dari umat Budha:
itu betul jika memang ada beberapa negara, tapi bgm jika ternyata hanya ada satu kerajaan dan satu raja yg menetapkan satu hukum bagi seluruh manusia di dunia dan di akhirat?
Dosen di atas di ibaratkan Allah SWT...
"kemudian sang dosen dengan sedikit menahan rasa kesal berkata...."
pertanyaanya : Siapa yang bisa menjamin Allah SWT akan merasa kesal dalam menghadapi si fulan??
bukankah Allah SWT Maha Pengasih dan Penyayang??
bukankah surga dan neraka itu hak preogatif Allah SWT?
:)
Dosen di atas di ibaratkan Allah SWT...
"kemudian sang dosen dengan sedikit menahan rasa kesal berkata...."
pertanyaanya : Siapa yang bisa menjamin Allah SWT akan merasa kesal dalam menghadapi si fulan??
bukankah Allah SWT Maha Pengasih dan Penyayang??
bukankah surga dan neraka itu hak preogatif Allah SWT?
:)
berarti Tuhan Islam tidak untuk semua orang. betapa tidak adilnya Tuhan anda. berarti tidak maha adil tidak maha menyayangi tidak maha kuasa. Tolong anda cari Tuhan untuk semua orang ...........
wah baru join saya nih...salam....sepanjang pengetahuan saya yang minim ini, seyogyanya kesadaran yang Universal bersifat seperti sinar matahari, yang memancar menyinari alam semesta raya dan seluruh keberadaanNya...apapun itu tidak terkecuali...
Sejak Nabi Adam sampai kiamat, Tuhan / Allah telah menurunkan 124.000 Nabi, dan 312 Rasul. Sebagai Nabi dan Rasul penutup adalah Muhammad bin Abdullah.
Umat-umat terdahulu banyak yg mengingkari perintah-perintah Allah. Banyak para Nabi disiksa, dihina, dihujat, bahkan dibunuh. Belum lagi penyimpangan2nya, beberapa nabi bahkan diangkat sebagai tuhan, walaupun nabi2 tersebut sebenarnya tidak menginginkannya.
Sesungguhnya tiap2 umat manusia, telah diberi kabar tentang ajaran agama / kebenaran. Agama Tauhid (meng Esakan Tuhan). Tapi banyak diatara mereka yang menolak, mengingkari, mencemooh, mengolok-olok ajaran-Nya.
Islam adalah agama yang terakhir, update, ajaran penggenap ajaran2 sebelumnya, seperti Ibrahim, Musa, dan Isa.
Apakah anda belum mendengar Dien (Agama) ini? pasti sudah, namun apakah anda setuju? atau menolak, itu urusan anda.
Hidup itu pilihan, jika anda mengikuti ajaran Islam, berarti selamat (Islam=keselamatan), kalau tidak, berarti hidayah blm masuk dlm diri anda...
Post a Comment